Pemerintah Libatkan Sekolah dan Keluarga untuk Perkuat Literasi Gizi melalui Program MBG
Pemerintah terus memperkuat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar tidak hanya berfungsi sebagai program pemenuhan kebutuhan pangan bergizi bagi peserta didik, tetapi juga menjadi sarana edukasi mengenai gizi, keamanan pangan, kebiasaan hidup sehat, dan pembentukan karakter. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa MBG diarahkan sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia yang menyentuh aspek kesehatan sekaligus pendidikan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa keterlibatan guru diperlukan agar pelaksanaan MBG di sekolah dapat memberikan nilai edukatif yang lebih luas. Guru diharapkan membantu peserta didik memahami pentingnya pola hidup sehat sekaligus membangun kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari.
“Itu untuk membantu pelaksanaan MBG di sekolah sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter. Jadi, supaya guru terlibat, tidak ada penambahan beban tugas guru sama sekali,” ujar Abdul Mu’ti.
Keterlibatan guru tersebut tidak dimaksudkan untuk menambah tugas administratif maupun beban kerja baru, melainkan mengintegrasikan nilai-nilai kesehatan dan karakter ke dalam proses pendampingan peserta didik. Dengan demikian, waktu makan di sekolah dapat menjadi bagian dari proses pendidikan yang membentuk pengetahuan sekaligus perilaku.
Menurut Abdul Mu’ti, pelaksanaan MBG juga berkaitan dengan penerapan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yang mencakup bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur cepat. Pembiasaan tersebut diharapkan dapat membantu peserta didik membangun pola hidup yang lebih teratur dan sehat sejak usia sekolah.
Dalam konteks tersebut, MBG tidak hanya dimaknai sebagai proses pembagian makanan. Momentum makan bersama dapat dimanfaatkan untuk mengajarkan kedisiplinan, kebersihan, tanggung jawab, kebersamaan, serta pemahaman mengenai pentingnya asupan gizi yang seimbang.
Upaya memperkuat edukasi gizi juga dibahas dalam Rapat Koordinasi Unit Pelaksana Teknis Implementasi Edukasi Gizi bagi Satuan Pendidikan yang diselenggarakan Direktorat SMP Kemendikdasmen di Serpong, Banten, pada 19–21 Agustus 2026. Forum tersebut melibatkan UPT dari 34 provinsi untuk menyamakan pemahaman, berbagi praktik pelaksanaan, serta membahas berbagai kendala penerapan edukasi gizi dan MBG di daerah.
Forum koordinasi tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan pendekatan edukasi gizi dapat diterapkan secara lebih seragam namun tetap menyesuaikan karakteristik masing-masing daerah. Pertukaran pengalaman antardaerah juga memungkinkan praktik yang dinilai efektif untuk direplikasi di wilayah lain.
Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen Gogot Suharwoto menjelaskan bahwa edukasi gizi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan MBG. Untuk mendukung implementasinya, Kemendikdasmen telah menyiapkan modul, petunjuk teknis, dan berbagai panduan yang dapat diterapkan melalui pembelajaran maupun pembiasaan sehari-hari.
Penguatan literasi gizi melalui satuan pendidikan memiliki arti strategis karena sekolah merupakan salah satu ruang utama pembentukan perilaku anak. Pemahaman mengenai makanan bergizi, kebersihan, keamanan pangan, dan pola hidup sehat yang diperoleh sejak dini berpotensi membentuk kebiasaan yang bertahan hingga dewasa.
Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional (BGN) Mariman Darto menilai bahwa keberhasilan literasi gizi juga membutuhkan keterlibatan keluarga. Menurutnya, pembentukan kebiasaan hidup sehat tidak akan optimal apabila hanya berlangsung di sekolah, tetapi tidak dilanjutkan di lingkungan rumah.
“Literasi gizi bukan hanya soal pengetahuan anak yang meningkat, tapi juga memastikan mereka memiliki akses terhadap sumber pengetahuan yang memadai. Karena itu, sekolah dan keluarga perlu sama-sama terlibat dalam membangun kebiasaan tersebut,” ujar Mariman.
Komite sekolah juga dapat menjadi penghubung antara sekolah dan keluarga dalam meningkatkan pemahaman orang tua mengenai pentingnya pemenuhan gizi. Melalui komunikasi yang baik, kebiasaan sehat yang dibangun di sekolah dapat diterapkan kembali oleh peserta didik di lingkungan keluarga.
Pendekatan tersebut memperluas cakupan manfaat MBG. Anak tidak hanya menerima makanan bergizi, tetapi juga memahami alasan mengapa makanan sehat penting, bagaimana menjaga kebersihan sebelum makan, serta bagaimana membangun kebiasaan makan yang baik dan bertanggung jawab.
Mariman mencontohkan berbagai aktivitas sederhana seperti mencuci tangan sebelum makan, antre secara tertib, berdoa sebelum makan, makan bersama, menjaga kebersihan lingkungan, serta memastikan makanan dikonsumsi di tempat dapat menjadi bagian dari proses pendidikan karakter.
Kebiasaan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi apabila dilakukan secara konsisten dapat membantu membentuk disiplin, tanggung jawab, kepedulian terhadap kebersihan, serta rasa kebersamaan antarpeserta didik. Dengan demikian, MBG memiliki dimensi pendidikan yang berjalan beriringan dengan tujuan pemenuhan gizi.
Keterlibatan sekolah dan keluarga juga penting dalam membangun kesadaran bahwa kesehatan merupakan tanggung jawab bersama. Ketika guru, orang tua, dan peserta didik memiliki pemahaman yang sama mengenai pola makan bergizi dan kebiasaan hidup sehat, manfaat program dapat berlangsung lebih jauh dibandingkan hanya pada saat makanan diberikan.
Ke depan, penguatan literasi gizi melalui MBG perlu terus didukung melalui peningkatan kapasitas pendidik, ketersediaan materi edukasi yang mudah dipahami, keterlibatan komite sekolah, serta komunikasi yang konsisten dengan orang tua. Evaluasi terhadap perubahan pengetahuan maupun kebiasaan peserta didik juga dapat menjadi bagian penting dalam mengukur dampak program secara lebih menyeluruh.
Dengan pendekatan tersebut, Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya menjadi instrumen untuk memenuhi kebutuhan gizi peserta didik, tetapi juga menjadi media pendidikan kesehatan dan karakter sejak usia dini. Sinergi antara pemerintah, sekolah, guru, keluarga, dan masyarakat diharapkan mampu membangun generasi Indonesia yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga disiplin, mandiri, memiliki literasi gizi yang baik, serta mampu menerapkan kebiasaan hidup sehat secara berkelanjutan.
