Antisipasi El Nino, Pemerintah Percepat Pompanisasi dan Perkuat Cadangan Pangan Nasional

Pemerintah mulai memperkuat langkah antisipatif menghadapi potensi El Nino atau musim kemarau panjang yang diperkirakan terjadi pada tahun ini. Salah satu strategi utama yang disiapkan adalah percepatan program pompanisasi pertanian untuk menjaga ketersediaan air dan memastikan produksi pangan nasional tetap stabil.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa pemerintah telah menjalankan program pompanisasi di lahan seluas 1,2 juta hektare sejak tahun lalu. Upaya tersebut akan terus diperluas dengan tambahan pompanisasi pada sekitar 1 juta hektare lahan pertanian pada tahun 2026.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan irigasi perpompaan (irpom) tambahan untuk menjangkau 1 juta hektare lahan guna memastikan tanaman padi tetap memperoleh pasokan air meskipun menghadapi musim kering.

“Potensi kekeringan sudah kita antisipasi sejak awal melalui pompanisasi. Tahun lalu sudah 1,2 juta hektare, dan tahun ini kita tambah lagi 1 juta hektare agar produksi tetap terjaga,” ujar Amran dalam konferensi pers mengenai ketersediaan stok pangan yang disiarkan secara daring.

Tidak hanya mengandalkan pompanisasi, pemerintah juga memaksimalkan optimalisasi lahan rawa yang telah direhabilitasi. Lahan tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk tetap menghasilkan produksi padi meskipun pasokan air di wilayah lain mengalami keterbatasan.

Dengan berbagai strategi tersebut, pemerintah optimistis stabilitas pangan nasional dapat tetap terjaga meskipun menghadapi potensi musim kemarau yang lebih panjang. Amran menegaskan bahwa produksi pangan nasional saat ini masih berada dalam kondisi kuat.

“Insya Allah pangan kita aman. Produksi kuat, stok cukup, dan berbagai langkah antisipasi sudah kita lakukan,” kata Amran.

Ia memperkirakan produksi beras nasional tetap berada pada kisaran 2,6 juta hingga 5,7 juta ton per bulan, angka yang melampaui kebutuhan konsumsi nasional rata-rata yang mencapai sekitar 2,59 juta ton per bulan.

Di sisi lain, pemerintah juga mencatat cadangan beras nasional dalam kondisi kuat, yakni mencapai 27,99 juta ton. Jumlah tersebut terdiri dari stok Perum Bulog sebesar 3,76 juta ton, stok masyarakat sekitar 12,50 juta ton, serta standing crop atau padi siap panen sebesar 11,73 juta ton.

Menurut Amran, ketersediaan tersebut masih akan terus meningkat seiring dengan potensi panen raya yang diperkirakan terjadi dalam beberapa bulan mendatang.

“Kalau kita lihat data hari ini, ketersediaan pangan kita sangat aman. Total stok beras nasional cukup untuk sekitar 324 hari atau hampir 10,8 bulan ke depan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir,” jelasnya.

Selain beras, kondisi komoditas pangan lainnya seperti ayam dan telur juga berada dalam posisi surplus. Situasi ini semakin memperkuat stabilitas pasokan pangan nasional di tengah ketidakpastian iklim global.

“Kita tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi geopolitik global maupun potensi El Nino. Produksi kita kuat, stok kita aman,” tambah Amran.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau lebih awal pada tahun 2026 dibandingkan pola klimatologis biasanya. Perubahan ini dipicu oleh berakhirnya fenomena La Nina lemah pada Februari 2026, yang kini telah bergeser ke fase Netral dan berpotensi berkembang menuju El Nino pada pertengahan tahun.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa pemantauan kondisi iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan indeks ENSO berada pada angka -0,28, yang masih berada pada fase Netral dan diperkirakan bertahan hingga Juni 2026. Namun demikian, peluang munculnya El Nino kategori lemah hingga moderat pada semester kedua tahun ini diperkirakan mencapai 50–60 persen.

“Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap berada pada fase netral sepanjang tahun,” kata Faisal dalam konferensi pers Prakiraan Awal Musim Kemarau 2026 di Jakarta.

BMKG juga mencatat bahwa peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menuju Angin Timuran (Monsun Australia) menjadi penanda awal musim kemarau. Sekitar 114 Zona Musim (ZOM) atau 16,3 persen wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026.

Wilayah tersebut mencakup pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, NTB, NTT, serta sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi.

Dengan berbagai langkah antisipatif yang telah disiapkan, pemerintah berharap produksi pangan nasional tetap terjaga dan mampu menghadapi dinamika iklim yang berpotensi terjadi sepanjang tahun ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *