Hasto Wardoyo Beberkan Menu Unggulan MBG, Fokus pada Gizi Anak yang Optimal
Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa daerah termasuk di Kota Yogyakarta mendapatkan sorotan masyarakat. Banyak warga yang mengeluhkan komposisi menu MBG selama bulan puasa yang dinilai tidak proporsional lantaran didominasi makanan kering seperti roti. “Kita akan komunikasikan, aslinya menu yang diharapkan itu kan mengandung protein hewani,” ujar Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo.
Pentingnya Omega-3 untuk Otak Anak
Hasto mengatakan menu MBG bertujuan untuk mendukung tumbuh kembang anak sehingga dari sisi komposisi tidak boleh dikesampingkan.
Menurut dia, MBG tidak hanya sekadar mengenyangkan tetapi juga harus mencerdaskan anak bangsa. “Protein hewani harus diutamakan yang mengandung omega-3 itu lebih diutamakan,” katanya. Ia menjelaskan, kandungan omega-3 sangat berkaitan dengan tumbuh kembang otak dan tubuh anak.
Hasto menilai pemberian menu berupa telur atau ikan jauh lebih baik daripada memberikan porsi karbohidrat yang berlebihan kepada para siswa. “Kalau misalkan bulan Ramadhan dikasih telur, itu masih sesuai, atau ikan, mungkin masih bisa sesuai. Harapan saya tidak dikasih dalam bentuk karbohidrat yang dominan tanpa protein hewani,” urai Hasto.
Tanggapan Badan Gizi Nasional DIY
Koordinator Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Daerah Istimewa Yogyakarta, Gagat Widyatmoko, menanggapi keluhan masyarakat tersebut sebagai bentuk perhatian publik yang wajar. Hal ini disebut akan menjadi bahan evaluasi BGN DIY ke depannya.
“Menanggapi respons masyarakat terkait menu kering MBG, kami memandang hal tersebut sebagai perhatian publik yang sangat wajar dan menjadi bahan evaluasi bagi kami.” ujarnya.
Gagat menjelaskan, skema pemberian menu kering dilakukan dalam kondisi tertentu, salah satunya saat bulan ramadhan.
Namun, ia menegaskan bahwa standar operasional tetap harus mengacu pada prinsip keamanan pangan, kecukupan gizi, dan kelayakan konsumsi.
Saat ini, BGN DIY tengah mengoptimalisasikan serapan produk UMKM lokal dan menghindari makanan pabrikan atau ultra processed food.
Gagat memastikan pihaknya telah melakukan monitoring langsung di lapangan terkait laporan menu yang tidak sesuai standar angka kecukupan gizi (AKG).
“Terhadap beberapa SPPG yang tidak memenuhi ketentuan telah diberikan tindakan sesuai regulasi yang berlaku sebagai bagian dari pembinaan dan penegakan standar,” kata Gagat.
