Ekonom: Pasar Sambut Positif Pidato Ekonomi Prabowo, IHSG Naik 1,59 Persen

Pasar saham merespons positif arah kebijakan ekonomi yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI dan penyampaian Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,59 persen ke level 6.401 pada perdagangan Jumat (14/8/2026).

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai respons pasar tersebut sejalan dengan semakin jelasnya arah pembangunan ekonomi yang ditawarkan pemerintah untuk beberapa tahun ke depan.

Karena, pidato Presiden tahun ini tidak lagi sekadar menempatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai instrumen utama pembangunan. Pemerintah mulai mengarahkan berbagai kekuatan ekonomi—dunia usaha, pasar modal, sistem keuangan, BUMN, sumber daya alam, dan masyarakat—untuk bergerak dalam satu ekosistem pertumbuhan.

“Menurut saya, ini adalah pidato negara pembangunan. Bukan karena negara ingin menjadi pemain utama dalam seluruh aktivitas ekonomi, tetapi karena pemerintah sedang berusaha memastikan seluruh sumber daya yang dimiliki bangsa ini dapat bergerak bersama menuju tujuan yang sama, yaitu pertumbuhan yang lebih tinggi, lapangan kerja yang lebih luas, dan kesejahteraan yang lebih merata,” ujar Fakhrul, Jumat (14/8/2026).

Fakhrul melihat sejumlah kebijakan yang disampaikan Presiden, mulai dari DSI, Danantara Development Management Fund, Indonesia Financial Center, Bursa Komoditas Strategis, Bank Emas, hingga reformasi pasar modal, tidak berdiri sendiri.

Jika dilihat sebagai satu kesatuan, kebijakan tersebut menunjukkan upaya pemerintah meningkatkan produktivitas sumber daya ekonomi dan menciptakan nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri. “Kalau dilihat satu per satu, kebijakan-kebijakan tersebut tampak terpisah. Tetapi kalau dilihat secara utuh, sebenarnya semuanya berbicara tentang hal yang sama, yaitu bagaimana sumber daya ekonomi Indonesia dapat bekerja lebih produktif untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat,” katanya.

Menurut dia, arah tersebut penting karena pertumbuhan ekonomi tidak dapat hanya mengandalkan belanja pemerintah. “Dalam ekonomi modern, kesejahteraan tidak bisa hanya dibangun oleh APBN. Pemerintah dapat membangun fondasi, tetapi investasi, penciptaan lapangan kerja, inovasi, dan ekspansi usaha tetap berasal dari sektor swasta dan masyarakat,” ujarnya.

Dari sisi fiskal, Fakhrul menilai target defisit RAPBN 2027 sekitar 2,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) menunjukkan pemerintah tetap berupaya menjaga keseimbangan antara agenda pembangunan dan disiplin fiskal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *