Program Makan Bergizi Gratis Dinilai Memperkuat Keadilan Sosial melalui Pemenuhan Gizi dan Pembangunan Sumber Daya Manusia
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai semakin memperkuat peran negara dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemenuhan kebutuhan gizi, khususnya bagi kelompok yang menjadi prioritas. Berbagai kalangan menilai program tersebut tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan kesehatan masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat keadilan sosial, mengurangi kesenjangan, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Mantan Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Hafid Abbas, menilai Program MBG merupakan kebijakan afirmatif yang memiliki landasan konstitusional karena memberikan kesempatan yang setara bagi setiap anak untuk memperoleh pemenuhan gizi tanpa membedakan latar belakang sosial maupun ekonomi keluarga. Menurutnya, kehadiran negara melalui program tersebut merupakan bentuk upaya menciptakan persamaan kesempatan (equality of opportunity) bagi seluruh masyarakat.
Sebagai Guru Besar di Universitas Negeri Jakarta, Hafid Abbas menjelaskan bahwa Indonesia masih menghadapi kesenjangan sosial dan ekonomi yang memerlukan intervensi kebijakan publik. Dalam konteks tersebut, Program MBG dipandang sebagai salah satu instrumen pemerataan yang mampu mengurangi hambatan sosial dan ekonomi sehingga anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan berkembang secara optimal.
Menurut Hafid, pemenuhan gizi yang memadai sejak usia dini menjadi faktor penting dalam mengurangi kesenjangan antargenerasi. Oleh karena itu, program gizi sekolah dinilai tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek dalam memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga berkontribusi terhadap pembangunan sumber daya manusia yang lebih berkualitas di masa depan.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), Doddy Izwardy. Menurutnya, Program MBG memiliki manfaat yang lebih luas dibandingkan sekadar penyediaan makanan bagi peserta didik. Program tersebut merupakan bagian dari strategi peningkatan status gizi sekaligus pencegahan penyakit tidak menular melalui pembiasaan pola makan yang lebih sehat.
Doddy Izwardy menjelaskan bahwa anak usia sekolah berada pada masa pertumbuhan fisik dan perkembangan otak yang memerlukan asupan gizi yang memadai. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia dan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), masih terdapat prevalensi stunting pada kelompok usia sekolah dasar serta meningkatnya kasus kelebihan berat badan dan obesitas. Oleh karena itu, intervensi gizi melalui Program MBG dinilai penting untuk mendukung pertumbuhan anak secara optimal.
Menurutnya, pelaksanaan Program MBG juga menunjukkan kecenderungan meningkatnya konsumsi buah dan sayur di kalangan peserta didik. Kondisi tersebut dinilai berkontribusi terhadap pembentukan kebiasaan makan yang lebih sehat sebagai bagian dari investasi jangka panjang dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia.
Doddy menegaskan bahwa program gizi sekolah sebaiknya dipandang sebagai investasi human capital lintas sektor. Selain mendukung peningkatan kesehatan masyarakat, program tersebut juga berpotensi memberikan dampak positif terhadap kualitas pendidikan, produktivitas tenaga kerja, serta pertumbuhan ekonomi nasional di masa mendatang.
Sementara itu, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Wihaji, menegaskan bahwa pelaksanaan MBG bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD (MBG 3B) menjadi bagian penting dari strategi pencegahan stunting sejak awal kehidupan. Menurutnya, pemenuhan kebutuhan gizi pada kelompok tersebut merupakan salah satu langkah utama untuk mengurangi risiko terjadinya stunting pada anak.
Wihaji juga menekankan bahwa keberhasilan Program MBG memerlukan sinergi antarkementerian, lembaga, serta pemerintah daerah, termasuk melalui penyelarasan data penerima manfaat agar bantuan dapat disalurkan secara tepat sasaran. Koordinasi yang baik dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan efektivitas pelaksanaan program di lapangan.
Secara keseluruhan, Program Makan Bergizi Gratis dipandang sebagai salah satu kebijakan strategis yang mengintegrasikan aspek kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial, dan pembangunan sumber daya manusia. Dengan memperluas akses masyarakat terhadap pemenuhan gizi, memperkuat koordinasi lintas sektor, serta meningkatkan ketepatan sasaran penerima manfaat, program ini diharapkan mampu mendukung terwujudnya generasi Indonesia yang lebih sehat, produktif, dan berdaya saing sekaligus memperkuat keadilan sosial dan pemerataan pembangunan nasional.
