DIY Diguncang 777 Gempa Sejak Awal 2026, Dampak Kumulatif Bangunan Diwaspadai

Aktivitas seismik di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya menunjukkan peningkatan signifikan pada awal tahun 2026. Berdasarkan data pemantauan hingga Rabu, 18 Februari 2026 pukul 20.00 WIB, tercatat ratusan kejadian gempa bumi dengan frekuensi tinggi sejak awal Januari. Mayoritas gempa berkekuatan kecil, namun terjadi berulang dalam rentang waktu yang relatif rapat.

Data pemantauan resmi dari BMKG menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas gempa tersebut berkaitan dengan pergerakan Sesar Opak, salah satu patahan aktif utama yang melintasi kawasan DIY dan sebagian Jawa Tengah. Pola gempa didominasi magnitudo kecil, tetapi intensitas kejadiannya tergolong padat.

Sejumlah akun pemantauan mitigasi bencana di media sosial juga menyoroti fenomena gempa kecil berulang ini. Mereka mengingatkan bahwa meskipun magnitudo rendah, frekuensi tinggi tetap berpotensi menimbulkan dampak kumulatif terhadap struktur bangunan, terutama pada konstruksi yang sudah mengalami penurunan kualitas.

Gempa-gempa kecil yang terjadi terus-menerus dapat memicu retakan halus pada dinding, melemahkan sambungan struktur, hingga memperburuk kondisi pondasi bangunan lama. Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak diimbau tidak mengabaikan gempa kecil yang sering terasa.

Wilayah yang diminta meningkatkan kewaspadaan meliputi Kota dan Kabupaten Yogyakarta, Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul, serta sebagian wilayah Klaten dan sekitarnya. Warga diminta melakukan inspeksi mandiri bangunan secara berkala, terutama pada bagian tembok, kolom, balok struktur, sambungan atap, serta area pondasi.

Langkah preventif yang disarankan antara lain memeriksa munculnya retakan baru, memastikan tidak ada bagian struktur yang bergeser, serta segera melakukan perbaikan awal bila ditemukan tanda-tanda kerapuhan. Pemeriksaan dini dinilai penting untuk mencegah kerusakan lebih besar bila terjadi guncangan lanjutan.

Aktivitas sesar lokal ini juga disebut berkaitan dengan rangkaian respons tektonik pascagempa bermagnitudo menengah yang mengguncang wilayah selatan Pacitan, Jawa Timur, pada awal Februari 2026. Gempa tersebut bersumber dari zona subduksi dan getarannya turut dirasakan di sejumlah titik DIY.

Dampak kombinasi aktivitas tektonik regional dan pergerakan sesar lokal dilaporkan menyebabkan kerusakan pada beberapa bangunan cagar budaya, termasuk struktur Candi Sari di Sleman. Akses ke bagian dalam bangunan dibatasi sementara demi alasan keselamatan pengunjung dan untuk keperluan evaluasi teknis.

Para ahli kebencanaan menilai pola swarm atau rentetan gempa kecil yang terjadi saat ini dapat menjadi indikasi pelepasan energi secara bertahap di zona patahan. Meski demikian, pola tersebut tidak otomatis menandakan akan terjadi gempa besar dalam waktu dekat. Hingga laporan terakhir, belum ada peringatan resmi mengenai potensi gempa besar mendadak.

Masyarakat diimbau tetap tenang namun waspada, memperbarui informasi hanya dari sumber resmi, serta mengikuti arahan pemerintah daerah dan BPBD setempat terkait langkah kesiapsiagaan dan mitigasi risiko gempa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *